Post #994
14
Design / Tempo (&.) Pit-Wall Idaman .. โก Photo
๐ Kediaman Rosalie, 08.00 Pagi
Matahari pagi menembus celah gorden kamar, menyiram lantai kayu dengan sinar keemasan yang hangat. Pagi ini terasa jauh berbeda dari kemarin, tidak ada panik karena pipa bocor, tidak ada bayang-bayang amarah Miss Intan, dan tidak ada detak jantung ugal-ugalan yang menyiksa.
Dua cangkir kopi hangat sudah mengepul di atas meja dapur. Di depanku, Mahaga duduk santai dengan kemeja kasual yang lengan pendeknya digulung sedikit, menyesap kopinya sembari memperhatikan layar ponselku yang masih menampilkan surel dari agensi fashion Paris tersebut.
"Jadi..." Mahaga membuka suara, suaranya yang berat dan tenang selalu berhasil jadi jangkar buat pikiranku yang riuh. "Tawaran dari Miss Intan buat jadi Junior Designer resmi di Noine udah di tangan, dan surel dari Paris ini juga nunggu jawaban kamu."
Aku menghela napas panjang, merapatkan kedua telapak tangan di sekeliling cangkir kopiku yang hangat. "Aku masih berasa mimpi, Mas. Kemarin pagi aku mikir karirku bakal hancur lebur di studio, tapi hari ini... aku malah berdiri di depan dua pintu besar yang sama-sama bikin merinding."
Mahaga tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangannya melintasi meja, merengkuh jemariku dan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Kamu layak dapat semua ini, Sayang. Apa yang kamu lakuin kemarin itu murni kejeniusan dan ketangguhan kamu sendiri. Bukan karena nama Mama, bukan karena kebetulan."
Mahaga menandaskan sisa kopi di cangkirnya, lalu melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu menghela napas pendek, lalu mengulas senyum tipis sembari menatapku.
"Mas berangkat kerja dulu ya, Sayang," pamitnya lembut.
Dia beranjak dari kursi dapur, membetulkan letak kerah kemejanya sebentar sebelum melangkah mendekat ke arahku. Mengikis jarak, Mahaga menunduk pelan lalu mendaratkan satu kecupan hangat di dahiku, cukup lama hingga membuat rasa tenang merayap penuh memenuhi dadaku.
"Jangan dipikirin sampai pusing banget. Mau pilih Jakarta atau Paris, jalanin yang bikin hati kamu paling hidup. Mas bakal selalu ada buat dukung kamu," bisiknya tepat di depan wajahku, menatap mataku lekat-lekat.
Jemarinya menyusap lembut helai rambutku yang terurai, lalu merapikannya ke belakang telinga.
"Aku anter ke depan ya," ucapku sambil berdiri dari kursi.
"Enggak usah, lanjutin ngopinya aja. Kamu kemarin capek banget, hari ini nikmatin pagi kamu dulu sebelum ke studio nanti siang," cegahnya penuh perhatian, menahan bahuku halus agar kembali duduk.
"Kopi kamu habis tuh, nanti Mas buatin lagi pas pulang," lanjutnya dengan kedipan mata jahil yang refleks membuatku terkekeh pelan.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut," pesan-ku sambil merapikan kerah kemejanya yang sedikit bergeser.
Mahaga mengangguk singkat, lalu mengecup sekilas ujung hidungku sebelum akhirnya berbalik melangkah menuju pintu depan dapur. Sebelum benar-benar keluar dari pandanganku, ia sempat menoleh sekali lagi sambil melambaikan tangan.
"Ingat ya, jangan lupa makan siang tepat waktu. See you later, My Designer," serunya setengah menggoda.
Suara langkah kakinya perlahan menjauh, disusul deru mesin mobil yang meninggalkan halaman rumah. Aku kembali menghela napas lega, memeluk cangkir hangat di tangan sambil tersenyum kecil di tengah keheningan dapur. Pagi baru ini benar-benar membawa energi yang menyenangkan untuk menyambut hari.
โโโโโโโโโโโโโโโโ
#MaisonAetoile x #MEROSALIE