pada suatu
pada suatu detik, sebuah detak menggebu pada rongga dada anak manusia. ia berlarian sebab sebuah denting bernyanyi begitu saja di telinganya. seperti derap yang bersahutan dalam sebuah kotak kecil. di luar, gemericik gerimis tanpa mendung membasuh wajah yang terpaksa membangun senyum.
pada suatu senyum, sebuah runyam mencekam rahangnya. dikecup tajam tulang wajah yang rupawan itu. rangkaian aksara membelai kulitnya hingga membiru. namun pada mata yang memburam, matahari tak pernah tidur. memeluk mengusir dingin yang merajuk pada tubuh.
pada suatu tubuh, sebuah tabah, seorang perempuan dengan kasih dalam, ingin dia tanpa tapi.
—renjana
Post #1314
312