Post #18
14
Nokos ready f19 nf r7 lagi gaass habisin, proof on @ProofJawira yaa
SW @swaranindya

This post (sticker, poll or similar) has no web preview. Open in Telegram
This post (sticker, poll or similar) has no web preview. Open in Telegram
This post (sticker, poll or similar) has no web preview. Open in Telegram
Ada nama-nama yang tak lagi menetap, tapi jejaknya masih bersemayam di ingatan.
Bukan untuk mengulang, hanya merapikan kisah—ini serpih-serpih yang pernah singgah.
This post (sticker, poll or similar) has no web preview. Open in Telegram
Ada seseorang yang kerap tiba lebih dahulu—bukan lantaran ingin mendahului, melainkan sebab hidup gemar menempatkannya di garis mula tanpa aba-aba. Ia melangkah sebagaimana orang-orang melangkah, tampak wajar, tampak lumrah; namun bila dipandangi lebih lama, ada bobot yang diam-diam bersemayam di cara ia menegakkan diri, seolah punggungnya sudah akrab dengan peran penopang yang tak pernah diumumkan, tak pernah diberi upacara, hanya diminta ada—dan tetap ada; Swaranindya Ayu adalah bunyi yang luruh perlahan seperti reronce nada, menimbulkan riak tipis yang tak gegap namun menjalar jauh—sunyi tapi menetap—dan orang-orang menyingkatnya menjadi Swara, sebab nama yang terlalu utuh kadang terasa seperti langit yang kelewat luas untuk ditatap tiap hari, maka dipetiklah satu suku kata agar bisa diselipkan ke saku ingatan tanpa terasa berat.
Makna namanya tak ia hamparkan di bawah sorot; ia menyimpannya seperti surat yang tak pernah sempat berangkat. Terlipat rapi, mengandung getar, menyimpan kilau yang tak meminta disaksikan—kelembutan yang tegas, keanggunan yang tak mencari panggung—hingga namanya sendiri terasa seperti doa yang disisipkan di sela napas: tidak lantang, tidak memaksa, namun bekerja pelan-pelan seperti bara kecil yang bertahan ketika malam memanjang; ia lahir di Tangerang pada 18 November 2009, di hari yang serupa ambang antara gerimis yang belum tuntas dan terang yang belum sepenuhnya pulih, lalu langit menitipkan tanda Scorpio di atasnya—kedalaman yang enggan dipertontonkan, keteguhan yang tak butuh pembuktian—dan meski rumahnya tampak lengkap, dengan ayah, ibu, kakak, abang, adik perempuan, adik laki-laki, Swara paham: lengkap tidak selalu hangat, utuh tidak selalu teduh, ramai tidak selalu pulang, sebab ada retak yang tak terlihat dari jarak pandang, ada sunyi yang tumbuh di tengah keramaian, dan ada tawa yang kadang hanya selubung halus untuk menutup bagian yang diam-diam runtuh.
