Post #985
18
Design / Tempo (&.) Pit-Wall Idaman .. ♡ Photo
Keheningan di studio nomor empat mendadak pecah ketika Kak Gladis, Kak Mey, dan Kak Sifa melangkah cepat mendekatiku. Rasa panik yang tadinya merayap perlahan mendadak sirna, tergantikan oleh solidaritas yang erat.
"Oca, bangun! Jangan pingsan sekarang, kita enggak punya waktu!" bisik Kak Gladis tegas sambil menarik tanganku agar berdiri.
"Mey, kamu urus keringkan kain yang terkena tetesan air! Sifa, tolong ambilkan steamer dan papan sketsa baru!" perintah Kak Gladis cepat. Pembagian tugas langsung berjalan tanpa komando lanjutan.
Aku menyapu air mata di pipi, menarik napas dalam-dalam, dan memutus getaran ponselku setelah mengirim satu pesan singkat ke Mas Mahaga: “Sayang, tolong doakan aku. 4 jam ke depan penentuan hidup dan matiku.”
Sambil menunggu tim mengeringkan bagian kain yang selamat, aku duduk di meja sketsa. Mengingat kembali bayangan warna ivory dan cokelat kopi yang dulu tak sengaja tercipta di Sepang, jemariku mulai menari cepat di atas kertas baru.
Menggambar ulang dari memori terasa jauh lebih tajam, tiap lekuk coat, potongan celana bergaris halus, hingga aksen drapery unik pada sketsa ke-6 dan ke-7 berhasil kurangkai kembali hanya dalam waktu 30 menit.
Masalah utama tersisa pada bahan prototipe yang basah. Kain cashmere utama memang rusak di bagian atas, tapi bagian bawahnya masih utuh.
Sebuah ide gila mendadak melintas di kepalaku.
"Kita enggak usah bikin full coat," ucapku mantap menatap Kak Gladis dan yang lain. "Kita potong bagian yang rusak, ubah konsep fisiknya jadi Deconstructed Winter Cape & Cropped Jacket. Aksen potongannya justru bikin gayanya makin modern dan high-fashion!"
Gunting tekstil langsung menari cepat di atas meja potong. Kak Mey dan Kak Sifa membantu memasang jarum pentul dengan presisi tinggi, sementara Kak Gladis menangani bagian mesin jahit dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu 60 menit, bahan yang tadinya dianggap "sampah" akibat bocoran AC mendadak tersulap menjadi dua busana experimental piece yang sangat memukau.
Tepat pukul 12.45 WIB, pintu studio terbuka. Miss Intan melangkah masuk bersama jajaran board of directors dan para investor utama. Wajah Miss Intan tampak tegang, bersiap melihat kegagalanku.
Namun, langkah para investor justru terhenti tepat di depan dua manekin.
"Pilihan potongannya sangat berani dan fresh," ujar salah satu investor utama dengan binar mata kagum. "Sentuhan deconstructed style pada mantel winter ini luar biasa. Sangat relevan dengan tren masa kini. Siapa yang merancang ini?"
Miss Intan sempat tertegun membeku, matanya tak percaya menatap dua busana ajaib yang berdiri gagah di ruangan, lalu perlahan menoleh ke arahku.
"Rosalie Helena," jawab Miss Intan pelan, sebelum akhirnya mengukir senyum tipis yang sulit diartikan. "Dia desainer magang kami yang mengerjakan sketsa ke-6 dan ke-7 ini."
Lega luar biasa membuncah di dadaku. Seluruh keletihan dan rasa stressed out dalam 3 jam lebih terakhir mendadak luntur begitu saja. Di balik pintu kaca studio yang transparan, aku melihat sosok Mahaga yang berdiri tenang sambil tersenyum bangga menatapku, menyilangkan tangannya di dada seolah berbisik, “Kamu berhasil, Sayang.”
────────────────
#MaisonAetoile x #MEROSALIE