“Jangan nangis, woy. Nanti maskara luntur.”
“GUE NGGAK PAKE MASKARA, BODOH!”
“Ya udah, berarti aman.”
Tawa mereka pecah untuk kesekian kalinya.
Sampai seorang teman memeluknya dan berbisik, “Nanti kalau udah kuliah, jangan lupain kita, ya.”
Ilyas terdiam sesaat.
Kemudian dia menepuk punggung temannya.
“Mana mungkin. Utang lo ke gue aja belum lunas.”
Temannya tertawa sambil menangis.
Ilyas ikut tertawa, meskipun suaranya terdengar sedikit berbeda.
Dia tidak pandai mengucapkan selamat tinggal. Tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa dia menyayangi teman-temannya tanpa membuat dirinya sendiri merasa aneh.
Jadi, dia memilih cara yang paling dikenalnya: bercanda, mengeluh, dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Karena mungkin, bagi Ilyas, menjadi orang yang membuat semua orang tertawa jauh lebih mudah daripada menjadi orang yang mengakui bahwa dirinya juga akan merindukan mereka.
Dan ketika hari itu berakhir, satu hal menjadi jelas.
Kelas XII mereka memang akan lulus.
Mereka akan tumbuh dewasa, pergi ke tempat berbeda, dan memulai kehidupan masing-masing.
Namun, di antara semua kenangan yang akan mereka bawa, pasti akan ada satu nama yang selalu muncul setiap kali mereka mengenang betapa berisiknya masa SMA.
Ilyas.
Cowok yang hampir tidak pernah serius, terlalu sering bikin masalah, dan punya kemampuan luar biasa untuk mengubah setiap momen menjadi kekacauan.
Anak yang paling sering disuruh diam, tetapi justru menjadi salah satu suara yang paling mereka rindukan setelah semuanya selesai.
Post #14957
60