Soal Aijing yang juga dianggap sebagai korban dari perbuatan orang tuanya, menurutku memahami posisinya bukan berarti membenarkan tindakan orang tuanya atau mengabaikan penderitaan korban. Kita bisa bersimpati kepada korban sekaligus membedakan tanggung jawab orang tua dengan tanggung jawab anak. Di sisi lain, idol yang terdampak boikot dalam kasus lain juga bisa mengalami kerugian. Jadi, kenapa pertimbangan dan empati terhadap pihak-pihak yang terdampak bisa berbeda?
Aku juga kurang setuju kalau keputusan untuk hold langsung dianggap sebagai bukti kepedulian, sementara orang yang tetap berjualan seolah-olah ga punya empati. Cara seseorang menunjukkan kepedulian bisa berbeda-beda, dan keputusan untuk tetap berjualan ga otomatis berarti mendukung tindakan yang sedang dipermasalahkan.
Aku ga nyuruh siapa pun untuk berhenti hold. Kalau memang itu pilihan kalian, silakan. Tetapi, kalau keputusan ini dikembalikan pada pilihan masing-masing, seharusnya orang yang memilih tetap berjualan juga diberi ruang untuk menentukan sikap tanpa langsung dihakimi. Mengajak orang lain untuk hold tentu boleh, tetapi alasan di balik ajakan tersebut juga wajar untuk didiskusikan.
Post #7
153
- ❤ 7