Jakarta: Sebuah Ruang untuk Bertumbuh โฟเฟ
โโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโ
Setelah kembali ke Jakarta, sempat kupikir kepulangan akan terasa seperti menemukan jalan yang sudah lama kukenal. Nyatanya, kota ini masih sama ramainya, tetapi aku telah membawa terlalu banyak hal baru untuk sekadar kembali menjadi diriku yang dulu.
Hari-hariku kemudian kuisi dengan hal-hal sederhana. Kembali ke gereja, mengenal orang-orang baru, ikut dalam kegiatan komunitas, dan perlahan mengambil bagian dalam pelayanan. Tidak ada satu kejadian besar yang tiba-tiba mengubah hidupku. Hanya ada banyak pertemuan kecil yang membuatku kembali merasa bahwa mungkin, berada di suatu tempat bukan selalu tentang menemukan jawaban.
Dari sana, bunga kembali hadir dalam keseharianku.
Awalnya hanya lewat sebuah workshop sederhana yang aku ikuti untuk mengisi luang. Lama-lama aku mulai memperhatikan satu hal: orang-orang sering kali menggunakan bunga untuk mengutarakan perasaan yang tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
Ada yang ingin mengucapkan selamat. Ada yang ingin berterima kasih. Ada yang ingin meminta maaf. Ada pula yang hanya ingin mengatakan, aku rindu kamu.
Dan bunga, dengan caranya sendiri, selalu bisa menyampaikannya.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memandang bunga sebagai sesuatu yang perlu kugambar dan kuabadikan. Kali ini, aku ingin melihatnya dari sisi yang berbeda; sebagai sesuatu yang bisa diberikan, dibagikan, dan hadir di tengah kehidupan seseorang.
Maka aku mulai belajar lagi.
Bukan karena merasa sudah menemukan tujuan hidup yang pasti. Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang terasa dekat denganku. Mengikuti workshop, belajar merangkai, mencoba berbagai jenis bunga, membuat kesalahan, membongkar rangkaian, lalu menyusunnya kembali.
Pelan-pelan, sebuah gagasan kecil mulai terbentuk.
Bagaimana jika bunga-bunga ini tidak hanya berhenti sebagai sesuatu yang kubuat untuk diriku sendiri?
Bagaimana jika ada sebuah ruang kecil tempat orang bisa datang ketika mereka ingin mengatakan sesuatu, bahkan ketika kata-kata terasa terlalu sulit?
Gagasan itu belum memiliki nama. Belum memiliki bentuk yang sempurna. Tapi untuk pertama kalinya sejak kepulanganku, aku tidak keberatan untuk tidak mengetahui seluruh jawabannya.
Mungkin beberapa hal memang cukup dimulai dari satu bunga, satu meja kerja, dan keberanian untuk mencoba.
Dan dari sanalah, babak baru kehidupanku telah dimulai.
Post #317
95
๐ฆ๐ฎ๐ท๐ฎ๐ธ-๐๐ฎ๐ท๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐บ๐ถ Photo
- โค 17