โโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโ
Pagi itu aku sedang duduk di meja makan dengan secangkir teh bunga chamomile yang belum sempat habis ketika sebuah email masuk.
Aku sebenarnya tidak berniat membuka laptop sepagi itu, tetapi nama pengirimnya membuatku berubah pikiran.
Royal Botanic Gardens, Kew.
Mereka sudah beberapa kali menghubungiku untuk pekerjaan ilustrasi sebelumnya, jadi aku tidak terlalu terkejut ketika menemukan sebuah permintaan komisi baru di dalamnya.
Kali ini mereka sedang mendokumentasikan beberapa tanaman yang tengah dibudidayakan dalam koleksi hidup mereka. Beberapa di antaranya baru saja memasuki masa berbunga dan membutuhkan ilustrasi untuk melengkapi catatan botani yang nantinya akan digunakan dalam arsip serta materi penelitian.
Mereka mengirimkan daftar spesies, catatan pengamatan dari tim yang merawatnya, beberapa foto dari rumah kaca, serta tenggat waktu yang menurutku masih cukup masuk akal. Aku membaca semuanya sambil sesekali menyeruput teh, lalu tanpa terlalu banyak berpikir membalas bahwa aku bersedia mengerjakannya.
Beberapa hari kemudian, meja kerjaku berubah seperti biasa setiap kali mendapat proyek baru. Buku-buku botani yang biasanya tersusun rapi mulai terbuka di halaman yang berbeda-beda, kertas gambar menumpuk di samping kotak cat air, dan laptopku penuh dengan foto tanaman yang harus kuperhatikan bergantian. Aku bahkan menemukan dua pensil yang sejak kemarin kucari ternyata terselip di bawah buku yang sedang kubaca.
Aku memulai dari spesimen pertama yang mereka kirimkan. Sebelum menyentuh kertas, aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengamati bentuknya terlebih dahulu. Dalam pekerjaan seperti ini, menggambar bukanlah bagian yang paling sulit. Yang lebih sulit justru memastikan bahwa apa yang kugambar benar-benar sesuai dengan tanaman di hadapanku, dari bentuk daun, susunan kelopak, sampai bagian kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.
Itulah mengapa aku selalu menyukai pekerjaan ini.
Aku tidak sedang membuat bunga menjadi lebih indah dari aslinya. Aku hanya mencoba melihatnya sebagaimana adanya, lalu menyimpan apa yang kulihat sebelum ia berubah.
Setiap tanaman punya waktunya sendiri. Ada yang baru berbunga selama beberapa hari, ada yang membutuhkan berbulan-bulan sebelum akhirnya membuka kelopak pertamanya. Setelah itu semuanya akan kembali berubah; warna memudar, daun mengering, dan bunga yang kemarin masih ada mungkin sudah tidak ditemukan lagi pagi ini.
Mungkin karena itu aku tidak pernah keberatan menghabiskan berjam-jam untuk satu gambar.
Menjelang sore, ilustrasi pertama akhirnya selesai. Aku menjauhkan kursi sedikit dari meja dan memperhatikannya dari sana, sementara cahaya matahari mulai bergeser melewati jendela dan jatuh di atas kertas yang baru saja selesai kukerjakan.
Aku tersenyum kecil.
Besok masih ada tiga tanaman lagi.
Dan untuk sementara, rasanya cukup menyenangkan mengetahui bahwa setidaknya satu dari mereka sudah punya tempat untuk tinggal lebih lama di atas selembar kertas, di antara halaman-halaman buku, dan mungkin suatu hari nanti di tangan seseorang yang bahkan belum pernah melihatnya tumbuh.