Nama bukan hanya sekedar harapan, namun sebuah doa โฟเฟ
โโโโโโโโโโโโโโโโโโโโโ
Aku pernah bertanya kepada Ibu mengapa ia memberiku nama Marigold.
Saat itu usiaku mungkin delapan atau sembilan tahun. Aku baru pulang sekolah dan sedikit kesal karena teman-teman menganggap namaku terlalu aneh. Mereka bilang bunga mawar terdengar lebih cantik, bunga lili lebih anggun, sementara marigold terdengar seperti nama tanaman yang tumbuh di halaman belakang.
Ibu hanya tersenyum. Ia sedang memangkas beberapa tangkai bunga di kebun ketika aku bertanya.
โKarena marigold bukan bunga yang paling langka, atau yang paling mahal,โ katanya sambil menepuk tanah dari kedua tangannya. โTapi ia selalu tahu bagaimana caranya tetap mekar.โ
Aku masih belum mengerti.
Melihat wajahku yang kebingungan, Ibu memetik satu kuntum marigold dan meletakkannya di telapak tanganku.
โOrang-orang sering memilih bunga karena kecantikannya. Ibu memilih marigold karena keteguhannya.โ
โMarigold bisa tumbuh di tempat yang sederhana. Ia tidak meminta tanah yang sempurna, tidak juga cuaca yang selalu baik. Meski hujan datang atau musim berganti, ia akan tetap mencoba berbunga.โ
Ibu tersenyum sekali lagi, jauh lebih lembut dari sebelumnya.
โKalau suatu hari hidupmu tidak berjalan seperti yang kamu harapkan, Ibu cuma ingin kamu mengingat satu hal.โ
โMekarlah, di mana pun kamu ditanam.โ
Saat itu aku hanya mengangguk, belum benar-benar memahami maksudnya.
Baru bertahun-tahun kemudian, ketika aku menghabiskan hari-hariku menggambar bunga yang perlahan layu sebelum sempat dikenang, aku sadarโฆ.
Mungkin Ibu tidak sedang memberiku nama.
Ia sedang memberiku cara untuk menjalani hidup.
Post #146
158