Namun, kami juga ingin mengingatkan agar tidak menuduh seseorang menggunakan AI secara sembarangan. Setiap orang memiliki writing atau art style masing masing, jadi tidak pantas untuk menuduh seseorang menggunakan AI. Apalagi menuduh di publik saat seseorang sedang memberikan opini atau pandangannya terkait suatu topik. Tindakan seperti itu dapat membuat seseorang enggan menyampaikan opininya lagi.
Kami memahami bahwa memang ada perbedaan antara karya yang dihasilkan oleh ai dan karya manusia. AI memiliki kecenderungan tertentu, sebagaimana manusia juga memiliki ciri dan gaya masing-masing. Namun, perbedaan tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk menuduh seseorang secara sepihak, terlebih hanya berdasarkan kesan, kerapihan, atau rasa "terlihat seperti ai"
Selain itu kami juga menghimbau untuk tidak menggunakan AI secara berlebihan yang dapat menimbulkan ketergantungan. Berikut beberapa dampak yang harus di perhatikan.
Berikut dampak penggunaan AI terhadap lingkungan.
➥ Proses pelatihan satu model AI besar dapat menghasilkan emisi karbon setara ribuan kali perjalanan pesawat jarak jauh, dengan konsumsi energi yang sangat besar.Dampak penggunaan AI terhadap cara berpikir manusia.
➥ Sistem pendingin server AI menggunakan ratusan ribu liter air untuk mencegah overheating, yang dapat memperburuk krisis air di wilayah rawan kekeringan.
➥ Sekitar 69% dampak lingkungan dari AI bukan hanya berasal dari emisi karbon, tetapi juga dari polusi udara, konsumsi energi, dan eksploitasi bahan mineral.
➥ Peningkatan kebutuhan infrastruktur data center menyebabkan lonjakan limbah elektronik dan mempercepat kerusakan sumber daya alam.
➥ Menurut OECD (2023) data center global yang mendukung AI sudah menghabiskan lebih dari 4% dari total listrik dunia, dan angka ini diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030.
Source.
1. https://www.nature.com/articles/s41893-025-01681-y
2. https://www.greenit.fr/2025/10/24/what-are-the-environmental-and-health-impacts-of-ai/
3. https://arxiv.org/abs/2411.09786
4. https://www.oecd.org/content/dam/oecd/en/publications/reports/2022/11/measuring-the-environmental-impacts-of-artificial-intelligence-compute-and-applications_3dddded5/7babf571-en.pdf
➥ Menurut penelitian Enang (2024) dari Jurnal Vox Edukasi, penggunaan AI yang terlalu sering bisa membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, karena terbiasa dengan hasil instan.AI memang merupakan teknologi yang sangat membantu, tapi tetap ada konsekuensi jika digunakan dengan tidak bijak atau tanpa batas.
➥ Cognitive offloading, yaitu kondisi di mana seseorang lebih memilih membiarkan mesin yang berpikir untuknya. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat seseorang lebih cepat lelah saat diminta berpikir sendiri, bahkan merasa sulit fokus ketika tidak menggunakan bantuan AI jika tidak dikontrol.
➥ Terlalu sering mengandalkan AI dalam menulis dan berpikir juga dapat mengalami penurunan kemampuan ekspresi dan empati dalam komunikasi.
➥ Studi dari MIT Technology Review (2025) menjelaskan bahwa penggunaan AI berlebihan dapat menimbulkan AI dependency, yaitu kondisi ketika seseorang merasa tidak mampu menghasilkan ide tanpa bantuan sistem otomatis seperti AI.
Source.
1. https://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/VOX/article/view/3892/pdf
2. https://tatkala.co/2025/08/02/cognitive-offloading-saat-ai-mempermudah-tapi-mengikis-ketajaman-berpikir/
3. https://www.aitechsuite.com/ai-news/mit-study-ai-writing-tools-reduce-brain-activity-create-cognitive-debt
Penggunaan AI yang berlebihan juga beresiko mengabaikan karya kreatif para writer, artist, etc yang mengandalkan ide serta kemampuan mereka sendiri. Mengganti kerja keras manusia dengan hasil instan dari AI bisa membuat kita lupa cara menghargai proses dan usaha dibalik semuanya. Jadi, ayo belajar lebih menghargai proses dan usaha orang lain serta diri sendiri ya. 🤍