BRAKK!
Pintu saloon didobrak hingga engselnya hampir lepas. Lima orang pria bersenjata lengkap merangsek masuk. Di depan mereka berdiri "The Butcher" Vance, seorang bandit kejam yang kepalanya dihargai ratusan dolar. Mata Vance langsung tertuju pada meja sudut.
"Serahkan petanya, Jibby! Kamu tidak bisa lari lagi setelah mencuri dari kami!" gertak Vance, moncong senapannya mengarah lurus ke dada Jibby.
Mave bersiap menarik pelatuknya, namun ia kalah cepat. Dengan gerakan secepat kilat yang hampir tak kasat mata, Jibby menendang meja hingga terbalik, menjadikannya tameng, sementara tangan kanannya sudah memuntahkan peluru tepat ke dada anak buah Vance yang paling dekat.
"Butuh bantuan, Tuan Pemburu Bayaran?" seru Elena di balik desingan peluru.
Mave terkekeh, adrenalinnya terpacu. "Dengan senang hati, Nona!"
Mave berguling ke balik meja bar, menarik dua pistolnya, dan melepaskan tembakan beruntun. Saloon seketika berubah menjadi medan perang penuh asap mesiu dan pecahan kaca. Jibby bergerak dengan keanggunan yang mematikan, setiap tembakannya tidak pernah meleset. Kombinasi ketepatan menembak Mave dan kelincahan jibby membuat kelompok Vance kocar-cair dalam hitungan menit, meninggalkan Vance yang terpaksa mundur dan kabur menembus badai di luar.
Napas Mave terengah-engah saat badai mesiu di dalam ruangan mereda. Ia menatap Jibby yang sedang meniup asap dari moncong pistol peraknya dengan tenang, seolah baru saja menyelesaikan tarian, bukan baku tembak.
"Kaukah pencuri yang mereka maksud?" tanya Mave sambil menyarungkan senjatanya.
Jibby mendekat, lalu mengeluarkan sebuah gulungan kulit tua dari balik jubahnya. "Ini bukan sekadar barang curian, Mave. Ini peta rute tambang emas ilegal milik walikota korup yang mendanai geng Vance. Saya tidak mencurinya untuk kaya, saya mencurinya untuk menghancurkan mereka."
Jibby menatap Mave dalam-dalam, tatapan yang penuh daya pikat sekaligus tantangan. "Vance akan kembali dengan pasukan yang lebih besar di kota sebelah. Saya butuh seorang penembak jitu yang tidak takut mati. Bagaimana, Tuan Pemburu Bayaran?"
Mave terdanpar sejenak. Menatap peta itu, lalu menatap wanita misterius di hadapannya. Pekerjaan ini berbahaya, bahkan mungkin bunuh diri, tapi ia tahu ia sudah terpikat sejak wanita itu melangkah masuk ke pintu saloon.
Mave membetulkan posisi topinya dan tersenyum tipis. "Kudaku sudah beristirahat cukup, Jibby. Pimpin jalannya."
Post #1764
3
Forwarded from RUSTLER #WILDWEST