Post #2606
38
The reason why we broke-up was because gua nggak pernah ngerasa jadi satu-satunya buat lu. At first, gua pikir ini cuma overthinking gua doang. Tapi ternyata gua sendiri yang lihat moment di mana gua yakin kalau dari awal, gua mang nggak pernah jadi satu-satunya. Berbulan-bulan gua hanyut dalam pikiran gua sendiri, bagian mana di dalam gua yang susah buat lu cintai? Bagian mana dari gua yang nggak cukup buat bersanding sama lu di sini? Atau mungkin karena gua nggak pernah deserve buat dicintai? For the past few months have been hard, tapi kalau gua tetap bertahan, sama aja gua bunuh kewarasan dan perasaan gua sendiri demi sama lu yang nggak bisa hargai gua sama sekali.