Pada Batas yang Bernama Lelah
Aku berkali-kali memungut serpihan hati,
yang jatuh karena ulahmu sendiri.
Menjahit luka dengan kata “tidak apa-apa”,
meski sebenarnya aku hampir kehilangan diri.
Kamu datang membawa sesal,
aku menyambut dengan pintu yang masih terbuka.
Bukan karena aku tidak terluka,
tapi karena aku terlalu mencintai untuk menyerah.
Namun, maaf yang terus mengalir
perlahan berubah menjadi beban.
Sebab tidak semua luka sembuh karena waktu,
ada yang semakin dalam
karena terus diberi alasan untuk bertahan.
Kini aku memilih pergi,
bukan karena rasa itu telah mati.
Aku hanya lelah menjadi rumah
bagi seseorang yang selalu datang
setelah menghancurkannya.