"Papi... Udah yaa? Bina capek, memek aku udah sakit banget... Udah engga bisa pipis kayaknya..." Ucapku memohon sembari menundukkan kepalaku karena mengaku sudah tidak sanggup kalau terus meneriakkan mengikuti nafsu Papi.
"Sayangku satu ini udah berani ngelawan, ya?" Mataku langsung melotot karena kaget mendengar jawabannya, aku langsung menggelengkan kepalaku untuk membantah perkataannya yang tidak benar.
Papi mencekik leherku dan menatapku dengan tatapan yang menurutku sangat menyeramkan. "Jawab, Bina. Mulut kamu masih bisa digunain 'kan?"
"Bina engga bantah Papi, aku engga bermaksud begitu..." Balasku rilih sembari menatap matanya memberanikan diri.
"Bagus. Turutin semua perkataan aku malam ini, Papi gamau dengar penolakan sama sekali." Ucap Papi sambil melepaskan cekikan di leherku dan menyiapkan sesuatu di depan lemari, "Papi engga bakal terlalu kasar malam ini, Sayang"
Ah, apa kalian percaya dengan itu? Aku sih jelas engga. Aku cuma bisa anggukan kepala untuk menyetujui saja. Lihatlah sekarang, Papi menyiapkan vibrator lagi seperti kemarin malam. Aku yang melihatnya cuma bisa menelan ludah kasar.
hari ini judulnya, patuhi papi maka aku akan selamat. ternyata beneran papi lebih lembut dari kemarin malam, kenapa begitu? karena kemarin malam lebih kasar daripada hari ini. coba kamu lihat.... banyak sekali tanda di tubuh aku dari papi... itu tandanya aku cuma boneka papi, cuma mainan papi yang bisa dia pakai sampai rusak... papi tau aku goblok banget kalau udah dapet kontol dia. makanya aku selalu dimanfaatin, karena cuma aku yang bakal patuh dari a-z walaupun tubuh aku harus berdarah-darah.