"Hnghhh... P-Papiii.... Pulangh...? Hiksh- lepasinh... Binaaa, yaaaa...?" Ucapku sedikit tenang saat melihat seseorang di ambang pintu.
Ekspresiku langsung berubah dari senang ke takut karena Papi— orang yang diambang pintu tadi langsung melepaskan ikat pinggangnya dan menarik kepalaku hingga terjatuh ke lantai.
Aku menatap memohon saat penis besar disodorkan di depan mulutku yang sudah kotor dengan salivaku sendiri. "Anghhh- Papi..?" Aku membersihkan diri untuk bertanya dengan nada yang sangat lemas.
"Suck it, Bina." Perintahnya yang langsung membuatku takut untuk segera melakukannya.
Dengan tubuhku yang sudah sangat lemas, aku berusaha mengulum penisnya hingga masuk seluruhnya ke dalam tenggorokanku. Papi tanpa ampun terus memperkosa tenggorokanku tanpa mengkhawatirkanku yang sulit bernafas
"Eumphhh- Slurphhh Anghh-"
"Ahhhh! Mmmhhhhh.... Nghhhh.. Papi— AKHHH!" Mataku memutih seketika karena hentakan pinggulnya yang membuatku tersedak ludahku sendiri.
kalian fikir papi bakal bucatin pejunua gitu aja cuma karena sepongan aku doang?.... ;< nou, ini baru awal permulaan dari permainan papi untuk hancurin memek aku sampai lower. aku cuma boneka papi yang harus puasin nafsu papi walaupun aku sendiri udah gak kuat____t papi bakal tetap kontolin aku walaupun aku udah pingsan kalau dia belum puas hancurin tubuh aku.