9. "Kok tumben rajin? Kesambet apa kamu hari ini?" ๐ญ
เจเจโ LILIANA SAMATHA:
โโโ๏พ Nomor sembilan. Pujian beracun atau backhanded compliment. Niatnya mungkin ingin mencairkan suasana atau bercanda di antara teman, tapi efek psikologisnya justru membuat si pendengar berpikir: "๐ข๐ต, ๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ถ๐ป๐ถ ๐ฑ๐ถ ๐บ๐ฎ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐ธ๐ฎ ๐ฎ๐ธ๐ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐น๐ธ๐ฎ๐ป?".
โโโ๏พ Alih-alih merasa termotivasi untuk terus rajin, mereka justru akan kembali malas karena takut dijadikan bahan lelucon lagi.
10. "Udah, ikhlasin aja. Gitu aja kok dipikirin terus sih? Hidup tuh dibawa santai." ๐ญ
เจเจโ LILIANA SAMATHA:
โโโ๏พ Nomor sepuluh. Kalimat penutup yang paling sering diucapkan tanpa empati. ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ถ๐ธ๐ต๐น๐ฎ๐๐ธ๐ฎ๐ป atau ๐บ๐ผ๐๐ฒ ๐ผ๐ป dari sebuah ๐น๐๐ธ๐ฎ, ๐ธ๐ฒ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป, atau ๐ธ๐ฒ๐ด๐ฎ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐ป bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam semalam. Itu butuh ๐ฝ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐, butuh ๐ฎ๐ถ๐ฟ ๐บ๐ฎ๐๐ฎ, dan butuh ๐๐ฎ๐ธ๐๐ bagi seseorang untuk berdamai dengan keadaan.
โโโ๏พ Menyuruh seseorang melupakan sesuatu dengan instan sama artinya dengan memaksa mereka melompati proses penyembuhan mental mereka sendiri, seolah menganggap rasa sakit mereka adalah hal yang sepele.