3. "Dulu zamanku lebih parah, kamu tuh kurang bersyukur." ๐ญ
เจเจโ LILIANA SAMATHA:
โโโ๏พ Nomor tiga. Adu nasib atau the classic guilt-tripping. Membandingkan penderitaan generasi masa lalu dengan tekanan hidup di era modern sama sekali tidak membuat masalah hari ini menjadi selesai. Ini hanyalah cara halus untuk menyepelekan validitas perasaan seseorang.
โโโ๏พ Tekanan ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐น, standar ๐๐ผ๐๐ถ๐ฎ๐น yang ๐๐ผ๐ธ๐๐ถ๐ธ, dan ๐ฏ๐๐ฟ๐ป๐ผ๐๐ di era sekarang itu nyata. Ketika seseorang direndahkan dengan kalimat ini, mereka merasa bahwa rasa sakit yang mereka rasakan tidak penting di mata dunia.
4. "Kamu tuh gemukan/kurusan sekarang, ya? Kelihatan gak keurus." ๐ญ
เจเจโ LILIANA SAMATHA:
โโโ๏พ Nomor empat. Komentar fisik berkedok "๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ-๐ฏ๐ฎ๐๐ถ" atau perhatian palsu. Kita sering lupa bahwa di balik cermin, orang yang kita ajak ngobrol mungkin sedang berdarah-darah melawan rasa tidak aman (๐ถ๐ป๐๐ฒ๐ฐ๐๐ฟ๐ถ๐๐) mereka sendiri โ mulai dari gangguan ๐ต๐ผ๐ฟ๐บ๐ผ๐ป, ๐๐๐ฟ๐ฒ๐ ๐ธ๐ฟ๐ผ๐ป๐ถ๐, sampai ๐ฒ๐ฎ๐๐ถ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐๐ผ๐ฟ๐ฑ๐ฒ๐ฟ.
โโโ๏พ Komentar fisik yang kelihatan remeh ini adalah racun paling cepat yang bisa menghancurkan ๐ฏ๐ผ๐ฑ๐ ๐ถ๐บ๐ฎ๐ด๐ฒ seseorang dalam hitungan detik, membuat mereka membenci pantulan diri mereka sendiri setiap kali bangun pagi.