π»ββοΈ "Wah... Badan dan kamera kalian aman? Bener-bener diuji ya kalian. Uji nyali iya, uji daya tahan tubuh juga. Dan yang pasti ujian hidup Mbak Yayuk sangat-sangat besar. Gua ga bisa bayangin setertekan apa beliau, padahal proses menuju kelulusannya tinggal kurang satu langkah lagi."
π¦ "Sangat tragis dan bikin merinding sih. Merinding takut dan merinding pilu sama kisah itu. Semangat, ya para pejuang skripsi. Sesulit apapun proses itu, kalian harus tetap berjuang mati-matian untuk hidup. Semuanya pasti indah kalau sudah waktunya. Sepakat ya?"
π¦ "Sepakat. 100% sepakat!"
π»ββοΈ "Sepakat setuju juga. Kita kembali ke cerita perjalanan kalian, ya? Lalu setelah hujan turun, kalian ke mana?"
π¦ "Karena hujannya makin deras, kami akhirnya memutuskan kembali ke lobby utama kampus untuk berteduh sambil menunggu hujan reda. Namun di sanalah puncak uji nyali kami. Tingkat seramnya berkali-kali lipat dari sebelumnya. Lobby kampus perlahan menjadi kosong. Jam menunjukkan pukul 18.50 malam. Hujan di luar semakin deras sementara suasana di dalam gedung terasa dingin dan sunyi."
π¦ " Huft... Sebentar aku tarik napas dulu... Di sana aku mendengar suara pintu loker dibuka dan ditutup dari ujung lorong."
π¦ "Sedangkan aku mendengar langkah kaki seseorang berjalan mondar-mandir. Beberapa menit kemudian terdengar suara keras dari belakang mereka. BRAKK! Sebuah kursi jatuh sendiri. Dan perlahan bergerak seperti sedang ditarik seseorang. Kami berteriak kaget. Kami mencoba menenangkan diri, walaupun jantung sudah berdetak tidak karuan. Ga tahu kenapa, di situasi itu aku malah ngantuk dan akhirnya tidur bersandar di bahu Layla. Maaf ya, Lay...."
Post #22834
116