π¦ " Life must go on, Jopex. Kami tetap melanjutkan perjalanan masuk ke area kampus karena di sana jujur aja nih... Rasa takutku masih belum gede. Kami jalan sambil merekam suasana sekitar. Kamu tahu lah, Jo. UGM di sore hari memang terasa indah banget. Pepohonan rindang, gedung besar yang menjulang tenang, dan suasana kampus yang adem membuat semuanya terasa nyaman. Rasa takut yang tadi mendadak sirna."
π»ββοΈ "Iya sih. Golden hour di UGM best... Tapi kalau langit udah gelap, beda lagi ceritanya. Kalian merasa gitu juga ga Allora, Layla?"
π¦ "Jelas dong! Kan gue sama Layla jalan dari sore sampai malam. Perubahan suasananya terasa banget ya, Lay? Kami sempat melewati sebuah lorong fakultas yang cukup sepi. Lampunya redup walaupun hari belum gelap. Back to vlogging, sambil merekam gue juga menjelaskan salah satu cerita urban legend tentang suara perempuan menangis di lorong itu. Tahu ga, Jopex? Gue dengar ada suara tertawa yang samar. Microphone kamera juga bisa menangkap suara tawa itu walaupun kecil banget. Gue langsung berhenti berjalan dan saling tatap sama Layla. Tapi waktu gue tanya, ternyata cuma gue yang dengar. Layla ga dengar sama sekali suara itu."
π¦ "Aku bilang ke Allora, udahlah kita anggap aja itu hanya suara dari luar gedung, walaupun sejak saat itu bulu kuduk aku mulai berdiri."
π»ββοΈ "Ah... What a... Okay, lalu gimana setelah itu?"
π¦ "Waktu itu sudah menjelang maghrib, kami berjalan menuju lapangan kampus untuk menikmati sunset sambil melanjutkan vlog. Suasananya indah, bahkan terlalu indah untuk sebuah cerita horror. Lagi-lagi rasa takutnya luntur. Langit jingga memantul di jendela gedung kampus dan angin sore berhembus pelan. Kami terlena sesaat. Setelah itu momen yang gong banget ternyata sudah menanti. Duh...."
Post #22830
112