Post #22802
644
π’Φ΄ΰ» π€ Di sebuah desa terpencil yang terjepit di antara gunung dan tertutup kabut abadi, hiduplah sang 'Penenun Takdir'. Alkisah, seorang saudagar serakah datang membawa tumpukan emas, namun sang Penenun menolaknya. Ia tidak meminta harta, melainkan 'benang merah' yang diambil langsung dari nadi manusia yang paling dicintai sang saudagar. Dalam keputusasaan yang berujung jagal, saudagar itu menenun kain dari darah. Namun ia lupa, kain yang ditenun dari rasa sakit tidak akan pernah memberikan kehangatan, melainkan jeratan yang mencekik pemiliknya hingga ke liang lahat.