#MahagaInFrame
Malam ini Mahaga dan juga adik nya Yvoire sepakat untuk menginap di rumah mereka. Tak lupa para kekasihnya masing-masing juga ikut menginap. Karena tentunya mama yang meminta anak-anaknya untuk tetap berada di rumah, setidaknya hanya untuk malam ini saja.
Yvoire dan Julian sudah lebih dulu masuk kamar, sementara Rosalie telah tertidur di kamar Mahaga karena kepalanya sedikit pusing.
Mahaga melangkah keluar dari dapur dengan segelas air di tangannya. Niatnya hanya ingin mengambil minum dan kembali beristirahat.
Namun, langkahnya terhenti ketika suara sang papa memanggil dari ruang tengah.
“Mahaga, bisa bicara sebentar dengan Papa?”
Mahaga menghela napas pelan sebelum mengangguk. Ia mengikuti papanya menuju taman belakang. Keduanya berdiri dalam diam, ditemani angin malam yang berembus pelan, hingga Edward akhirnya membuka suara.
“Bagaimana kabarmu? Pekerjaanmu lancar?”
“Baik. Pekerjaan juga masih seperti biasa, Pa.”
Edward mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke arah taman. “Lalu, kapan kamu berangkat ke Kanada? Oma terus menanyakanmu. Sekalian, kamu bisa mengecek perusahaan di sana.”
Senyum tipis di wajah Mahaga seketika menghilang. Ia sudah menduga pembicaraan ini tidak akan berhenti hanya pada kabar dan pekerjaan.
“Pa, aku sudah bilang, aku belum punya rencana ke Kanada.”
“Lalu kapan? Kamu tidak bisa terus menghindar, Mahaga. Oma merindukanmu, dan perusahaan itu juga membutuhkan perhatianmu.”
Mahaga tertawa hambar, lalu menatap papanya dengan sorot mata yang mulai mengeras.
“Kalau memang Oma merindukanku, aku akan mengunjunginya. Tapi jangan terus membawa-bawa perusahaan setiap kali kita bicara. Aku sudah punya pekerjaan dan kehidupanku sendiri di sini.”
Rahang Edward mengeras. “Kamu pikir Papa melakukan semua ini untuk apa? Papa hanya ingin kamu memikirkan masa depanmu!”
“Dan aku sudah memikirkannya, Pa! Aku memilih jalanku sendiri. Kenapa itu selalu sulit Papa terima?”
Suasana mendadak hening. Edward menatap putra sulungnya dengan kecewa, sementara Mahaga berusaha menahan emosinya yang sejak tadi perlahan memuncak.
“Pada akhirnya, kamu selalu menganggap Papa sebagai orang yang ingin mengatur hidupmu,” ujar Edward dingin.
“Karena setiap kali aku mencoba menentukan hidupku sendiri, Papa selalu berusaha mengubah keputusan itu.”
Mahaga meletakkan gelasnya di atas meja taman, kemudian mengembuskan napas panjang.
“Aku capek, Pa. Aku nggak mau bertengkar malam ini.”
Tanpa menunggu jawaban, Mahaga berbalik dan melangkah masuk ke rumah. Ia tahu percakapan itu tidak menyelesaikan apa pun. Namun, untuk malam ini, ia hanya ingin kembali ke kamar, menemui Rosalie, dan melupakan sejenak semua tekanan yang terus menghimpitnya.
Sementara itu, Edward masih berdiri di tempatnya. Menatap punggung putranya yang semakin menjauh, dengan amarah dan kekecewaan yang sama-sama tak mampu ia ungkapkan.
Post #1320
28
🔎 Mahaga's Case File. Photo