Post #17
83
Sekuku kama tak digayuh oleh sukma, walakin tlah disucihamakan nista yang melumatku garang tanpa sisa. Semuanya turut melupa, saru bagi siapa saja. Selayaknya gamang terkulai-kulai di sarwa jalan, aku pun tak kunjung pulang sebab seperti lintang tak teja, aku juga tiada beroleh benderangnya. Sisaku sekadar kuatir maras, tergolek tanpa upaya sampai pratah menyinggahi kelam, helaiku melayu dan yakinku gemar lesap–bukan dikebumikan, hanya terlampau gentar untuk bermukim dengan sarat ihwal luhur yang mengerti malu, sudah ditutur sejak berupa pucuk merah. Tidak seperti aku, tidak membelit dan benalu, mungkin juga tidak pernah khatam persoalan durjana pun satru.