"Di era hukum sekarang, Themis masih punya peran nggak sih?"
Kalo diliat dari dari prosedur hukum saat ini, Justitia lebih sering muncul. Alasannya simpel dan jelas: karena dia adalah representasi dari sistem hukum yang dirasa paling dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Themis sebagai dewi hukum ilahi lebih mengutamakan hati nurani, dan nyatanya—di kehidupan sekarang—pasal dan pengacara lebih masuk akal buat memegang keadilan. Coba deh pikirin, ada berapa banyak hukum yang legal tapi rasanya nggak adil? Atau sebaliknya, sesuatu yang nggak tertulis di hukum tapi semua orang tau kalo itu salah?
Hukum selalu bener, tapi sometimes, ada segelitir manusia yang bikin hukum jadi kacau. Kadang manusia lebih sibuk debat soal pasal sampe lupa nanya ke hati kita sendiri: di mana ada keadilan yang paling murni. At this moment, I assume Themis would say, "Apa gunanya hukum kalo kalian lupa soal perasaan?"
Dunia hukum sekarang emang lebih kenal Justitia, tapi kita juga nggak boleh lupa soal Themis sebagai pengingat bahwa hukum yang adil juga perlu dibarengi sama nurani yang bersih. Keadilan bukan cuma soal aturan, tapi soal memanusiakan manusia. Jangan sampe neraca Themis dan Justitia berat sebelah, atau bahkan cuma bisa diakses orang-orang tertentu. Kalo hukum cuma bisa ditegakkan buat yang mampu, Themis mungkin bakal milih main sama dewi lain daripada jadi dewi keadilan. :/