TGViewer
Dithaksara : Dithantara Cerita yang Tertinggal Dithaksara : Dithantara Cerita yang Tertinggal @duniaadita · 117 subscribers
Post #334 19
ㅤㅤㅤㅤㅤ
Hari Minggu pagi, dapur rumah keluarga Naashir berubah jadi studio acara masak dadakan. Ditha berdiri di depan kompor dengan celemek bunga-bunga milik ibunya yang kebesaran, ponselnya disandarkan pada botol minyak goreng sebagai tripod darurat. Video TikTok tahu kocek yang viral itu sudah diputar lima kali. Menurut Ditha, lima kali sudah cukup untuk dibilang paham.

“Gampang banget ini, Sha. Tahunya dibelah, diisi adonan aci, goreng selesai.” Spatula di tangannya diacung-acungkan tinggi-tinggi, gayanya sudah kayak juri MasterChef. Padahal minggu lalu telur ceplok bikinannya saja masih gosong sebelah. Rianisha dengan rambut dicepol asal dan wajah serius mengangguk pelan. Takar-menakar memang bidangnya. “Cil, I measure everything with precision. Percayain aja sama aku.” Dagunya terangkat sedikit, tenang banget, sampai Ditha nggak enak hati buat nanya "yakin?".

      Ditha percaya. Itu kesalahan pertama. Kesalahan kedua dimulai dari satu pertanyaan sederhana: tepung acinya di mana? Pertanyaan itu kedengarannya remeh, Ditha belum tahu, dan Rianisha jelas lebih tidak tahu. Perempuan itu mulai membuka lemari bawah. Isinya panci, panci, dan panci. Ia membuka laci bawah isinya plastik kresek yang dilipat segitiga oleh Mama, dan sepertinya tidak pernah ada yang berani menyentuhnya sejak tahun lalu. Rianisha membuka kulkas, menatap bagian dalamnya lama-lama, lalu menoleh dengan wajah polos.

      “Cil, tepung is not in the fridge.” Ia melapor dengan nada khidmat, kayak habis memecahkan kasus yang bikin polisi pusing tujuh keliling. Matanya bahkan belum berkedip sejak tadi. Ditha mulai curiga ini bukan bercanda.“Ya emang bukan, Sha! Lo ngapain buka kulkas?” Ditha menepuk jidatnya sendiri. Mau marah, tapi muka Rianisha sedang serius banget. Yang keluar malah tawa tertahan yang bunyinya kayak ban bocor. “Just checking, maybe it's hiding.” Pintu kulkas ditutup pelan-pelan, takut tepungnya kaget kalau memang lagi ngumpet di balik botol sirup. Ia bahkan sempat mengintip sekali lagi lewat celah pintu. Ditha cuma bisa geleng-geleng sambil menahan senyum.

      Setelah lima menit membongkar semua lemari yang terjangkau tangan, mereka sampai pada kesimpulan menyakitkan: tepungnya pasti ada di lemari atas. Lemari yang tingginya hampir menyentuh plafon. Lemari yang biasanya hanya bisa dijangkau Ayah, atau Ibu dengan bantuan kursi, atau tidak oleh siapa-siapa. Ditha mendongak. Lemari itu balas menatapnya dengan angkuh. “Gampang,” kata Ditha, dan melepas celemeknya. Di kepalanya, lemari setinggi itu cuma soal niat, dan niat Ditha pagi ini segede gunung Merapi. Celemek bunga-bunga itu dilempar ke kursi tanpa ampun. Sepupunya itu sampai melongo melihat Dita mendadak bergaya lagaknya peserta lomba panjat pinang.

     Ditha mulai memanjat ke atas meja dapur tanpa pikir panjang, berdiri berjinjit dengan satu tangan berpegangan pada pintu lemari. Kaus hitamnya naik sedikit setiap kali ia meregangkan badan. Ujung jarinya baru menyentuh pinggiran rak. Badannya melengkung kayak kucing yang lagi berusaha meraih toples di atas kulkas.“Dit, turun! Itu meja, bukan tangga!” perempuan itu sudah siaga di bawah dengan dua tangan terbuka lebar. Jantungnya senam ritmik tiap kali kaki Ditha bergeser seinci. Wajahnya pucat, tapi matanya tidak lepas dari kaki Ditha.

      “Dikit lagi, Sha! Gue kayak ngerasain ada kantong putih di sana!” Leher Ditha menengadah maksimal, matanya lengket di rak atas. Keras kepalanya kumat sampai ke ubun-ubun. Peringatan dari bawah masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. “Itu feeling atau halusinasi?” Sebelah alisn Rianisha naik menandakan tanda kebingungan. Sempat-sempatnya ia nanya sedetail itu di saat Ditha bergelantungan di ketinggian. Pertanyaannya terdengar kayak dosen penguji yang tidak mau menerima jawaban setengah-setengah.“Dua-duanya!” Ditha nyengir lebar, bangga banget sama jawabannya sendiri. Rianisha memijat pelipis. Dalam hati ia berdoa semoga meja dapur ini cukup kuat.

     
Hasilnya tentu saja nol, isi lemari atas hanya setoples kerupuk melempem, dua botol sirup yang entah dari lebaran tahun kapan, dan kaleng biskuit yang ternyata berisi Rengginang. Ditha turun dengan wajah kecewa. Ia duduk di tepi meja sambil menatap kaleng biskuit itu penuh dendam. Rianisha menyingsingkan lengan. “Okay. My turn.” Harga dirinya jelas nggak mengizinkan ia cuma jadi penonton. Apalagi setelah melihat Ditha turun tanpa hasil. Target berikutnya adalah lemari tinggi di samping kulkas, yang isinya rak-rak bertingkat seperti tangga. Rianisha, dengan celana piyama kotak-kotak dan tekad setengah gila, memanjat naik dari rak ke rak.

✎𓂃 𝐑𝐚𝐮𝐝𝐢𝐭𝐡𝐚 𝐃𝐚𝐢𝐥𝐲 · #RestartOtak
More from @duniaadita
  1. Oct 12, 2026Post #371
  2. Oct 12, 2026Post #369
  3. Oct 12, 2026nishatma posted a story
  4. Oct 12, 2026Post #367
  5. Oct 12, 2026Menjelang siang, Ditha, Nadia, dan Fadhil sudah duduk di kantin dengan ponsel Ditha tergel…
  6. Oct 12, 2026Post #362
Threads Profile ViewerView any public Threads profile without an account.Open ThreadLook →Writing with AI? Make it sound human.Metric37 rewrites AI drafts so they read naturally. Free AI detector, 1,500 words free.Try Metric37 →