“Kenapa kau terlihat begitu lelah?” Sang Bayangan bertanya, suaranya lirih dari tempat yang selalu kutahu, meski tak pernah bisa kutunjuk.
“Aku hanya sedang kehilangan arah,” jawabku pelan.
“Kehilangan arah bukan berarti kehilangan dirimu.”
Aku terdiam. Entah mengapa kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada yang seharusnya.
“Apa yang tersisa dariku kalau semua yang kuusahakan berakhir sia-sia?” tanyaku.
Sang Bayangan menatapku lama sebelum menjawab, “Kau.”
Aku mengernyit.
“Masih ada dirimu,” lanjutnya. “Masih ada aku. Bukankah selama ini, ketika semua orang pergi dan dunia menjadi terlalu bising, aku yang tetap tinggal di sampingmu?”
Aku menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, kesunyian tidak terasa seperti sesuatu yang harus kutakuti.
“Jadi, aku belum benar-benar sendirian?”
“Tidak pernah,” katanya. “Kau hanya terlalu sibuk mencari seseorang untuk tinggal, sampai lupa bahwa ada bagian dari dirimu yang tak pernah meninggalkanmu.”
Aku tersenyum tipis.
Mungkin benar. Barangkali pulang tidak selalu berarti menemukan tempat atau seseorang. Kadang, pulang hanyalah berani kembali kepada diri sendiri—dan menerima bahwa di dalam gelap sekalipun, masih ada aku dan Sang Bayangan yang
saling menjaga.
Post #41779
275
Sebuah #Drama ; Dialog antara ia dan Sang Bayangan.
- ❤ 9