ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤSegenap cakrawala penaka dipagut kedukaan sesaat setelah mata menangkap puri batu menjulang pada garis ufuk. Tumbuh tegak seperti taring yang menembus malam. Dindingnya mirip monolit berkelir kelam menantang zaman. Tidak ada pancawarna selain hitam dan usang. Surih perantara antarbatu pun dilapisi usia yang menua bersama doa-doa yang telah lama gugur dari ingatan manusia.
ㅤㅤㅤㅤDi sekeliling pula terhampar padang nisan yang tidak terbilang kuantitasnya. Barisan batu tempat nama-nama terdahulu bersemayam. GOTHEEZ—demikian kastil itu dikunyah mulut warga sekitar—sebuah sebutan yang jarang terucap tanpa gemetar pada ujungnya. Tiada satu saja yang berani mengucap lebih dari lidah langsung pada telinga.
ㅤㅤㅤㅤKe dalam gerbangnya yang palum akan ribuan masa, delapan lelaki kerap melintas setiap datangnya gelap, berhimpun sebagai satu persekutuan. Tujuan mereka, yakni merajut siasat untuk menyingkirkan roh-roh terkutuk yang menyesaki kota.
ㅤㅤㅤㅤKala kesenyapan kian memasap dan jagat sedang menahan napas, kedelapan lelaki itu beranjak meninggalkan. Derap langkah mereka menggema antara geram angin dan desir dedaun tua yang berserakan di tanah. Namun, seraya bermandikan sinar rembulan, tidak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa sesuatu yang telah lama raib dari pandangan khalayak kini berdiri di hadapan mereka.
ㅤㅤㅤㅤPenguasa neraka itu bernama Mephistopheles. Sosoknya merembes keluar dari rampai siluet yang menemukan wujudnya kembali. Senyum yang terukir pada wajah itu tidak mengandung rahmat barang setitik. Ketika ia bersuara, gaungnya merambat perlahan, menjalari liang yang tidak pernah disentuh terang.
ㅤㅤㅤㅤ"Selamat malam," tuturnya lir beludru yang menjerat. "Telah terlampau lama semenjak kita bersua, wahai jiwa-jiwa muda yang diliputi keputusasaan."
ㅤㅤㅤㅤLidah api sambar-menyambar tepat di tempat seharusnya bola mata bersarang. Akan tetapi, bak masih terikat pusat lensa, tatapnya beralih dari satu wajah ke wajah lain, seolah menimbang nilai yang tersembunyi di balik dada mereka.
ㅤㅤㅤㅤ"Aku datang membawa sebuah tawaran," lanjutnya perlahan; halus dan sarat janji berbahaya, "yang kiranya terlalu menggoda untuk kalian sangkal."
ㅤㅤㅤㅤDelapan persona beda perawakan saling melontarkan pandang; bilah-bilah wasangka yang berpapasan di udara. Sukar satu kata pun segera terucap. Hanya kecurigaan yang merayap perlahan dalam benak mereka, umpama racun halus yang mengendap di dasar jiwa.
ㅤㅤㅤㅤ"Mengapa kami mesti memercayaimu lagi?" ujar salah seorang di antara mereka, pemuda yang berdiri paling tegak di hadapan yang lain, yang dari sikapnya tampak memikul wibawa seorang pemimpin.
ㅤㅤㅤㅤKenangan lama masih mengeram dalam ingatan. Alih-alih anugerah, tawaran sang penguasa neraka dahulu hanya merupa umpan yang disulam dari tipu daya paling keji. Kata-katanya terdengar manis di telinga, tetapi di balik kemilau itu, terpatri jerat yang menuntun mereka pada kehancuran.
ㅤㅤㅤㅤBagaimana mungkin tidak curiga? Masing-masing pernah menorehkan darahnya sendiri pada lembar perjanjian yang terkutuk. Sebuah ikrar yang menjanjikan pemenuhan hasrat paling dalam serta pelepasan dari segala petaka duniawi. Namun, kepercayaan pada janji itu justru merenggut segala yang mereka miliki dalam sekejap mata, menyisakan satu-satunya warisan yang nihil dipatahkan—kontrak laknat yang mengikat jiwa mereka untuk selamanya dalam takhta neraka.
ㅤㅤㅤㅤMephistopheles belum menghentikan bujuk rayu. Ia kembali mengutarakan sederet kalimat yang membuat pupil kedelapan lelaki itu hampir selebar iris. Kesempatan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, terlepas dari kualat yang sekian lama membelit hidup mereka bagai rantai tidak kasatmata.
ㅤㅤㅤㅤAkan tetapi, ingatan lama segera naik ke permukaan logika. Kenangan tentang pengkhianatan yang pernah mereka kecap masih bernyala. Janji-janji yang dahulu terdengar manis pernah pula diucapkan dengan nada yang serupa, lalu dipatahkan tanpa belas oleh pangeran kegelapan yang kini berdiri di hadapan mereka.
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
Post #176
59